Sabtu, 29 September 2007

DKP TARGETKAN PRODUKSI RUMPUT LAUT 1,9 JUTA TON

DKP TARGETKAN PRODUKSI RUMPUT LAUT 1,9 JUTA TON

Indonesia sebagai Negara Kepulauan dengan jumlah pulau 17.504 buah, dan panjang pantai mencapai 81.000 km, merupakan peluang potensi budidaya laut yang sangat besar untuk dikembangkan. Potensi budidaya laut diperkirakan mencapai luas 24,5 juta ha, dan 1.110.900 ha diantaranya merupakan areal yang potensial untuk budidaya rumput laut. Luas efektif perairan untuk pengembangan budidaya rumput laut diperkirakan mencapai 222.180 ha (20% dari luas areal potensial), yang mana jenis rumput laut yang banyak diminati pasar adalah jenis Euchema spinosum, Euchema cottonii dan Gracilaria sp. Demikian disampaikan Menteri Kelautan dan Perikanan, Freddy Numberi saat melakukan panen raya rumput laut di Kabupaten Yapen Waropen, Propinsi Papua (14/09/07).

Komoditas ini pantas menjadi komoditas utama dalam program revitalisasi perikanan di samping udang dan tuna, karena beberapa keunggulannya, antara lain: peluang ekspor terbuka luas, harga relatif stabil, belum ada quota perdagangan bagi rumput laut; teknologi pembudidayaannya sederhana, sehingga mudah dikuasai; siklus pembudidayaannya relatif singkat, sehingga cepat memberikan keuntungan; kebutuhan modal relatif kecil; merupakan komoditas yang tak tergantikan, karena tidak ada produk sintetisnya; usaha pembudidayaan rumput laut tergolong usaha yang padat karya, sehingga mampu menyerap tenaga kerja. Kegunaan rumput laut sangat luas, dan dekat sekali dengan kehidupan manusia. Dari bangun pagi sampai mau tidur, manusia memerlukan produk dari rumput laut, yakni dari produk makanan, pasta gigi, kosmetik, obat-obatan, bahkan sampai produk industri besar lainnya.

Produksi rumput laut secara nasional pada tahun 2005 mencapai 910.636 ton, dan meningkat menjadi 1.079.850 ton pada tahun 2006. Angka ini merupakan angka yang cukup signifikan dalam pencapaian sasaran yang telah ditetapkan, yakni 933,000 ton untuk sasaran tahun 2005, dan 1.120.000 ton sasaran pada tahun 2006. Dalam program revitalisasi perikanan budidaya sasaran produksi rumput laut pada tahun 2009 adalah sebesar 1.900.000 ton. Oleh karenanya, strategi pencapaiannya ditempuh melalui pola pengembangan kawasan dengan komoditas Euchema sp. dan Gracilaria sp. Luas lahan pengembangan yang diperlukan sampai tahun 2009 adalah sekitar 25.000 ha, dimana seluas 10.000 ha untuk Gracilaria sp., dan 15.000 ha untuk Euchema sp.

Pengembangan komoditas rumput laut memerlukan investasi dan modal kerja sebesar Rp.70.984 juta dengan rincian Rp. 2.774 juta untuk Gracilaria sp., dan Rp. 68.210 juta untuk Euchema sp. Guna penyediaan bibit maka akan dilakukan pengembangan kebun bibit di sentra-sentra/pusat pengembangan kawasan, yakni di Lampung, DKI Jakarta, Banten, Jabar, Jateng, Jatim, Bali, NTB, NTT, Kalsel, Kaltim, Sulut, Sulsel, Sultera, Maluku dan Papua. Disamping itu akan dilakukan pengaturan pola tanam serta perbaikan mutu pasca panen dengan penyediaan mesin pre processing yang diperkirakan mencapai 150 unit. Dengan pengembangan tersebut diperkirakan akan dapat menyerap tenaga kerja sebanyak 255.000 orang.

Kegiatan usaha perikanan budidaya selama ini telah menunjukkan kinerja yang cukup positif, dengan memberikan kontribusi peningkatan produksi cukup tinggi. Namun kegiatan ini masih dianggap sebagai usaha yang beresiko tinggi oleh pihak perbankan. Artinya perbankan menganggap bahwa usaha perikanan budidaya sudah feasible, namun belum bankable. Dalam upaya menumbuhkan kepercayaan perbankan maka diperlukan dukungan permodalan melalui mekanisme Dana Penguatan Modal (DPM). Dalam tahun 2007 secara nasional Pemerintah telah menyiapkan DPM sebesar 173.9 milyar rupiah, dan diperkirakan 60% dari dana tersebut dialokasikan untuk kegiatan usaha budidaya rumput laut.

Selain melakukan panen rumput laut, Menteri Kelautan dan Perikanan juga menyerahkan bantuan-bantuan sebagai berikut: motor ketinting, listrik tenaga surya, mesin pengolahan rumput laut, penyerahan sertifikat dana ekonomi produktif, serta peresmian pabrik es, stasiun pengisian bahan bakar nelayan (SPBN) dan pencanangan pendidikan tinggi kelautan dan perikanan. Departemen Kelautan dan Perikanan juga melaksanakan pelatihan pengolahan rumput laut bagi nelayan pembudidaya di Kabupaten Yapen Waropen.

PELUANG NILAI TAMBAH RUMPUT LAUT MELALUI TEKNOLOGI KERTAS

PELUANG NILAI TAMBAH RUMPUT LAUT MELALUI TEKNOLOGI KERTAS



Rumput Laut Sebagai Komoditi Bisnis

Rumput laut (Seaweeds) adalah termasuk kelompok macro algae. Jenis (Spesies) rumput laut sangat banyak lebih dari 7000 spesies tersebar diperairan tropis maupun subtropis, termasuk yang tumbuh diperairan laut Indonesia. Bahkan mungkin masih banyak yang belum teridentifikasi. Secara umum rumput laut atau ganggang dapat digolongkan menjadi empat kelas, yaitu :

1.Ganggang Merah (Rhodophyceae)
2.Ganggang Coklat (Phaeophyceae)
3.Ganggang Hijau (Chlorophyceae)
4.Ganggang Hijau-Biru (Cyanophyceae)

dari masing-masing kelas rumput laut tersebut memiliki keunggulan masing-masing dalam peruntukannya, tentu saja sesuai dengan jenis (Spesies) yang memiliki karakteristiknya masing-masing.

Bahkan baru-baru ini Dr. Ir. Grevo Gerung (Dosen/Peneliti dari Unsrat Manado) menemukan jenis rumput laut (Ptolophora sp) yang dapat dijadikan sebagai alternatif bahan baku pembuatan kertas. Meskipun teknologi pembuatan kertas dari rumput laut ini masih dalam skala penelitian, namun hal ini merupakan peluang bagi industri rumput laut di Indonesia.

Teknologi Pembuatan Kertas

Pada prinsipnya teknologi pembuatan kertas cukup sederhana, sebagaimana penemuan pertama bahan kertas oleh Ts'ai Lun Lun seorang pegawai negeri pada pengadilan kerajaan di tahun 105 M pada zaman kekaisaran Thiongkok Ho Ti (tercatat dalam sejarah resmi dinasti Han). Bahan utamanya adalah bambu yang dilumatkan menjadi bubur lalu dibentuk menjadi lembaran dan dipres kemudian dikeringkan hingga menjadi lembaran kertas.

Belajar dari cara pengolahan agar-agar kertas dari ekstrak rumput laut Glacillaria yang sudah lama berkembang menjadi salah satu usaha skala rumah tangga (small skill industry) secara turun-temurun di daerah Pameungpeuk-Garut-Jawa Barat. Cara pengolahan agar-agar kertas dari rumput laut ini sangatlah mudah dan sederhana. Ekstrak agar-agar diperoleh dengan cara merebus rumput laut dalam suasana asam (pH tertentu), lalu disaring. Hasil saringan (ekstrak) dinetralkan dan dijendalkan (dicetak) dalam loyang dengan penambahan unsur alkalin (KOH) Setelah menjendal dalam satu malam, agar-agar diiris sesuai dengan ketebalan yang diinginkan (0,5 cm), irisan dibungkus kain blacu, disusun berlapis dan dipres secara alami dengan pemberat batu selama 12 jam untuk mengeluarkan kandungan air hingga ketebalan irisan agar-agar mencapai 0,2-0,3 cm. Esok paginya dijemur sampai batas kekeringan yang diinginkan dan agar-agar sudah berbentuk kertas dengan ketebalan sekitar 0,1 cm.

Lain halnya dengan proses ekstraksi karaginan yang pada umumnya hanya dilakukan dalam skala industri. Ekstraksi dilakukan melalui perebusan (90-95 °C) dengan penambahan Ca(OH)2 atau NaOH selama 24 jam, kemudian dilakukan penyaringan sebanyak 2 (dua) kali, dijendalkan dengan penambahan isopropyl alcohol, dipres, dicuci dan dipres kembali lalu dikeringkan dengan menggunakan rotary dryer menjelang proses penepungan. Ampas sisa ekstraksi dibuang sebagai imbah (waste) atau hanya dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman saja. Teknologi pembuatan kertas dari rumput laut yang dikembangkan oleh Dr. Ir. Grevo Gerung dapat dijadikan sebagai suatu solusi dalam memanfaatkan limbah tersebut. Teknologi pembuatan kertas dari rumput laut tersebut tentunya tidak jauh berbeda dengan cara pengolahan agar-agar kertas.

Peluang Nilai Tambah

Pengertian (term) "nilai tambah" (value-added) dalam dunia usaha perikanan masih beragam dan hampir disejajarkan dengan margin antara harga pembelian bahan baku (raw material) dan produk akhir (end products), meskipun sebenarnya antara keduanya berbeda. Namun secara umum {general) dapat dilihat betapa besar perbedaan antara harga jual rumput laut kering dengan produk turunannya ataupun produk akhirnya.

Kajian singkat yang dilakukan oleh PT. Bank Ekspor Indonesia (BED pada tahun 2006 menunjukkan rata-rata komoditi rumput laut Indonesia di pasaran dunia terpaut pada harga 496 $US/ton. Harga rumput laut Indonesia termasuk yang paling murah jika dibandingkan dengan Negara eksportir lainnya, rumput laut Cina memiliki harga 1,943 $US/ton, rumput laut Korea 2,984 $US/ton, rumput laut Chile 680$US/ton. Kelemahan harga rumput laut Indonesia disebabkan oleh karena sebagian besar rumput laut kita diekspor dalam bentuk mentah (raw material), padahal value-added rumput laut mentah yang diolah memberikan premium yang sangat tinggi. Sebagai contoh, Cina dan Korea mengolah rumput laut menjadi bahan makanan dan supplemen mendapat apresiasi harga yang tinggi di Jepang. Keuntungan lain dari olahan rumput laut adalah pengenaan tarif yang lebih rendah, bahkan nol, dibanding dalam bentuk mentah yang dapat dikenakan tarif hingga 40% di Jepang.

Perkembangan ekspor rumput laut Indonesia pada tahun 1999 s.d. 2004 mengalami peningkatan rata-rata 10,21%. Tentu saja rumput laut yang diekspor tersebut masih dalam bentuk raw material dengan harga yangcukup memprihatinkan, pada hal disisi lain peluang value-added untuk olahan rumput laut cukup terbuka lebar. Revitalisasi rumput laut melalui kegiatan budidaya rumput laut secara besar-besaran yang sedang digalakkan, akan mampu meningkatkan kesejahteraan para pembudidayanya jika teknologi pengolahan (pasca panen) rumput laut dapat segera mungkin diwujudkan dalam dunia bisnis rumput laut Indonesia.

Sumber : Zaenal Muttaqin ( Buletin Pengolahan dan Pemasaran Perikanan Craby & Starky edisi Juli 2007 )